Video Kondisi Sekolah Alam Yang Dibredel

0
Siswa Sekolah Kolong Belajar Tanpa Bangku Sekolah.

Mamuju Tengah – SuryatopNews.com – Sekolah Kolong dikenal juga dengan sebutan Sekolah Alam Mengeja Belantara. Terletak di Dusun Batu Papan, Desa Salulekbo Kecamatan Topoyo, Kabupaten Mamuju
Tengah.

Berbekal arang kayu sisa pembakaran sebagai kapur tulis, dinding papan rumah
masyarakat dan mimbar gereja sebagai tempat menulis, sekolah ini mulai didirikan oleh seorang bernama Aco Muliadi sejak tahun 2004 silam.

Sekolah Kolong diperuntukkan
bagi anak-anak petani dan suku hutan dalam (suku to pembuni).

Di penghujung tahun 2011, Aco Muliadi sudah mendirikan lima sekolah alam yang tersebar dibeberapa dusun. Kondisi geografis, tidak adanya akses pendidikan formal, tenaga pengajar, memaksa penggagas sekolah kolong membuat metode pembelajaran “tutor sebaya”. Dimana tutor sebaya merupakan pembelajaran yang terpusat pada siswa, dalam hal ini siswa yang telah memiliki kematangan pengetahuan akan menjadi tenaga mengajar buat siswa yang lain. Metode ini tumbuh secara alamiah dan berkelanjutan.

KONDISI OBJEKTIF SAAT INI

Saat pertama kali mengunjungi tempat ini dan memberikan donasi.Infrastruktur belajar
tidak memadai dan sangat memprihatinkan.

Ruang belajar mereka di bawah kolong rumah panggung yang sekaligus berfungsi sebagai kandang ayam.

Tidak adanya MCK dan ruang
ganti antar siswa. Sehingga tiap harinya anak-anak dan masyarakat desa hanya
memanfaatkan sungai.

Ada sebuah persoalan baru yang kemudian dialami oleh pendiri sekolah Alam saat ini, dimana siswanya kini dipaksa untuk menempati gedung yang sejak 2014 lalu itu sudah di soal.

Aco Muliadi yang merupakan pendiri sekolah Kolong Desa Salu Le’bo mengatakan, sejak adanya upaya pemaksaan sejumlah siswa kami menempati gedung sekolah yang sejak awal pembangunannya bermasalah, sejumlah titik pembelajaran kami terhenti diantaranya di Dusun Salu Nusu dan Dusun Batu Papan.

” Fasilitas berupa bangku sekolah yang selama ini digunakan oleh siswa dipaksa diangkut ke gedung sekolah yang kami nilai sampai hari ini bermasalah, dimana sejak awal pembangunannya papan proyek tidak jelas, penyerahan secara resmi kepihak sekolah belum ada serta kondisi bangunan yang retak menjadi beberapa fakta yang kami miliki.”Jelas Aco Muliadi.

” Siswa kami dipaksa untuk masuk ke gedung sekolah tersebut, sehingga secara psikologi tentu mereka tertekan dan akhirnya akan berefek pada pengajaran tidak akan bisa efektif.”Simpul Aco Muliadi.

Zul.

Comments

Tinggalkan Komentar anda