Sisi Lain Dari Kehidupan Jalan

0

SuryatopNews.com – MAMUJU – OPINI -Oleh : Riadi Syam – Kali ini izinkan saya untuk mengajak kita semua menyorot sebuah realita kehidupan di daerah kita khususnya di Mamuju , yakni kehidupan jalanan . Entah ini adalah sebuah fakta bahwa arus perkembangan kini mulai masuk kedaerah kita saat ini, namun tentu kita tidak bisa menolak bahwa saat ini sudah banyak anak – anak yang semestinya duduk dibangku sekolah namun kini telah menjadi anak jalanan.

Fakta yang dapat kita saksikan saat ini mungkin telah mewakili realita yang dapat dijumpai disejumlah kota -kota besar lainnya,dimana ada anak yang putus sekolah yang kesehariannya mengamen masuk kedalam warung -warung makan, warkop -warkop hingga tak jarang kita temukan anak yang masih terbilang dibawah umur telah terjerumus kedalam sebuah pergaulan dengan menyalahgunakan obat -obat telarang seperti Lem Pox serta sat adiktif lainnya. Lalu dengan kondisi seperti ini apakah kita harus apatis menyaksikan ataukah ada sebuah solusi yang kemudian menjadi jalan keluar atas kondisi yang ada saat ini.

Entah kenapa saya tertarik menyelami sisi lain dari kehidupan anak jalanan, sebab tak jarang mereka dicibir , dianggap anak nakal, jauh dari pendidikan serta banyak predikat yang terkesan negatif yang dialamatkan kepada mereka. Namun pada satu sisi bahwa kita tidak pernah berfikir bahwa pada tahap perkembangan psikologi mereka masih sangat membutuhkan bimbingan orang tua sebab merekapun adalah anak – anak bangsa yang tentunya mendapatkan hak yang sama dengan yang lain.

” Anak Jalanan ” kata ini yang kemudian membuat saya tertarik untuk lebih jauh ingin mengetahui sisi lain dari mereka, sehingga pada Minggu sore tepat pada 7 Januari 2 saya kemudian bertemu dengan sejumlah anak yang sering ngamen diwarung -warung yang ada dipesisir pantai Manakarra. Dari pertemuan itu mereka kemudian bercerita tentang aktifitas yang dilakoni bersama dengan teman – temannya, sayapun ikut jadi pendengar setia dari cerita mereka.

Nama saya Ato’ kak … saya biasa ngamen di warung yang ada di pantai, setelah ngamen hasilnya kami belikan rokok saat kami ngumpul bersama dengan teman – teman menikmati suasana malam sambil bermain gitar,”ujar anak yang bertato ini dengan penampilan layaknya musisi aliran Funk.

Mendengar cerita singkat dari salah satu panglima mereka , begitu saya menyebut Ato sebab dialah komando dari mereka, sayapun bertanya, kalian biasa minum …? iya kak biasa bahkan ada teman kami yang dulu suka ngisap lem Pox,”jawab salah satu dari mereka dengan sedikit malu – malu.

Selanjutnya sayapun kemudian bertanya diantara kalian masih ada yang sekolah …? mereka kemudian menjawab. iya masih ada, sementara sebagian lainnya sudah tidak sekolah tanpa ada alasan yang menyertainya.

Pada catatan kali ini dengan fakta yang ada didepan mata kita , saya kemudian lebih menitik beratkan pada pembahasan penyalahgunaan obat -obat terlarang dan sejenis Lem Pox yang tentunya akan memberi dampak yang buruk bagi kesehatan mereka. Dengan ketegantungan seperti penyalahgunaan berupa Lem tentu dapat merusak fungsi otak,kemampuan berbicara serta potensi kecerdasan yang dimana ini adalah merupakan bekal mereka untuk tumbuh dan berkembang dengan normal. Sehingga menurut saya penyalahgunaan berupa lem pox kepada anak -anak jalanan sangat penting untuk dikaji dan dicari sebuah solusi termasuk keberadaan mereka yang tentunya kian hari akan tumbuh subur di Mamuju ini.

Penyalahgunaan zat adiktif lainnya seperti Lem Pox tentu sangat akrab dengan anak Jalanan, sebab peran orang tua yang tidak ada,pengaruh lingkungan bahkan akibat depresi tentu menjadi pemicu mereka kemudian terjerumus kedalam hal -hal negatif . Dengan melihat secara sederhana realita kehidupan Anak Jalanan maka kita bisa menarik sebuah kesimpulan sederhana bahwa anak -anak jalanan yang notabenenya menyalahgunakan Lem Pox ini berusia antara 10 hingga 18 Tahun, bahkan lebih muda. Usia ini tentu merupakan usia pembelajaran yang masih sangat membutuhkan bimbingan terutama dari orang tua.

Saat keluarga mereka dalam keadaan tidak jelas, disibukkan dengan urusan masing – masing ,anak yang tidak dalam kondisi yang dapat menerima bimbingan maupun pembelajaran apapun sehingga menyebabkan ada proses pembelajaran yang lenyap dari kehidupan mereka. Hal ini tentu mengakibatkan proses pencarian pembelajaran serta bimbingan dilakukan pada orang lain diluar keluarga. Disinilah kemudian peran lingkungan masuk dalam proses pembentukan diri seorang anak.

Pada persoalan anak jalanan,ketika dirumah dan keluarga mereka tidak menemukan apa yang seharusnya mereka temukan,seperti kasih sayang dan perhatian maka tentu mereka akan mencari hal -hal tersebut di jalanan. Yang hingga akhirnya kehidupan jalanan menjadi kehidupan nyata yang diinterpretasi secara bebas dan lebih menyenangkan untuk mereka. Sekian catatan sederhana ini, semoga saja apa yang saya sajikan lewat coretan yang sangat jauh dari kesempurnaan dapat bermanfaat bagi kita semua.

Wasslam

Mamuju 7 Januari 2017

Riadi Syam.

Comments

Tinggalkan Komentar anda