Provinsi Sulawesi Barat Akan Hancur Sebelum Maju

0

SuryatopNews.com – OPINI – Oleh : Andri Nur Alam : Dikutip dari pernyataan Jarred Diamond, seorang profesor geografi Amerika serikat, yang mengatakan bahwa apabila ingin menghancurkan peradaban, ada tiga cara untuk melakukannya, yaitu :Hancurkan tatanan keluarga Hancurkan pendidikan Hancurkan ketelaudanan dari para tokoh dan rohaniawan (Ulama, ustadz, pendeta, raja, kepala suku, pemangku adat).

Pertama, Untuk menghancurkan keluarga caranya dengan mengikis peranan ibu-ibu agar sibuk dengan dunia luar dan menyerahkan urusan rumah tangga kepada orang lain ( pembantu, keluarga, anak). Para ibu akan lebih bangga menjadi wanita karir ketimbang menjadi ibu rumah tangga dengan dalih Hak Asasi dan Emansipasi. Kedua, pendidikan bisa dihancurkan dengan cara mengabaikan peran guru, kurangi penghargaan terhadap mereka, alihkan perhatian mereka sebagai pendidik dengan berbagai macam kewajiban administratif dan politik dengan tujuan materi semata, hingga mereka abai terhadap fungsi utama sebagai pendidik dan hasilnya siswa akan meremehkannya.
Ketiga, untuk menghancurkan keteladanan para tokoh masyarakat dan rohaniawan dengan cara melibatkan mereka kedalam urusan politik praktis yang berorienterasi materi dan jabatan hingga tidak ada lagi orang pintar yang pantas dipercayai, apalagi meneladani perkataannya.
Di Provinsi termuda Indonesia, Sulawesi barat, yang baru berumur 12 tahun, tiga indikator kehancuran peradaban menurut Jarred Diamond, semuanya telah terpenuhi. Bahkan ditambah dengan hilangnya kesadaran pemuda untuk memperbaiki keadaan ini.
Disulbar, ketika pembangunan gedung mulai bertebaran dimana-mana, manusianya juga akan bertebaran dimana-mana untuk mengejar proyek pembangunan gedung itu. Pemenangnya hanya orang yang memiliki kedekatan dengan si pemilik proyek. Entah pengusaha pemberi modal ketika kampanye dulu, tim pemenangan, atau saudara sendiri. Untuk mengisi posisi kunci pada setiap instansi pemerintah, rumus yang sama juga berlaku. “Dukung saya atau kulempar jika terpilih nanti.”
Pesta demokrasi yang berlangsung 2 tahun sekali di sulawesi barat menyebakan euporia politik di daerah ini sangat tinggi. Kepala dinas akan tetap sibuk mengintervensi Tenaga kontrak, suka rela, dan staf pada setiap instansi pemerintah. Kepala sekolah akan disibukkan dengan urusan politik yakni mengintervensi para guru untuk tetap menjaga posisinya. Tim pemenangan semakin bertambah yang diisi oleh mahasiswa, pemuda mantan dan pengurus lembaga kepemudaan, tokoh masyarakat, pemangku adat, bahkan kapala suku dan raja sekalipun. Orientasinya hanya satu. ”UANG’.


Pembangunan gedung-gedung milik pemerintah yang menjadi indikator kemajuan suatu daerah memang nampak namun warna gedungnya pasti sama dengan warna bendera partai sang pemimpin. Anggaran negara diperjual belikan. Aspirasi anggora dewan perwakilan rakyat yang katanya untuk membangun masyarakat hanya sesuai dengan permintaan kontraktor yang dulunya tim pemenangan. Dana BOS untuk sekolah-sekolah disesuaikan dengan apa yang berikan pada saat pemilihan dan berapa besar yang siap disetor ke pimpinannya.

Disetiap sudut kampus, pemimpin lembaga kemahasiswaan pembahasannya politik melulu. Disetiap sudut kota dan warung kopi ala barat diwilayah perkotaan, pemuda sibuk berdebat tentang kandidat nomor berapa yang mereka dukung. Sementara tenaga pendidik di sekolah sibuk dengan urusan administratif dan memikirkan nasibnya jika tidak memilih calon pemimpin yang diperintahkan kepala sekolah. Para ulama hanya akan menyampaikan materi titipan dari calon pemimpin tertentu jika berceramah. Diskusi tentang pengembangan kapasitas manusia sangat jarang ditemukan di sulbar.
Mental manusia di Sulbar bermental “penjilat”. Hampir semua program pemerintah merupakan porgram titipan untuk mengangkat popularitas pemilik anggaran program. Sudah sangat jarang program pembentukan karakter yang di peruntukan kepada anak dan tenaga pendidik, serta orang tua untuk menanamkan jiwa dan karater yang kuat berbasis budaya kita di sulbar, MALA’BI DAN KEADA’.
Hasilnyapun berbanding lurus. Siswa sibuk dengan pacarnya. Mahasiswa sibuk dengan kandidat seniornya. Pemuda sibuk dengan tim pemenangan yang dibentuknya. Tokoh agama dan masyarakat sibuk mengkampanyekan calon pemimpin yang membayarnya.
Dahulu, ketika tembok cina berhasil didirikan, kerajaan cina (pada waktu itu) tidak lantas aman dari peperangan. Para tentara musuh dengan mudahnya masuk melalui gerbang dengan menyogok panjaga. Cina dijaman itu sibuk dengan pembangunan tembok tapi mereka lupa “membangun” manusianya.
Inilah buah dari sistem demokrasi yang menyalah-gunakan politik sebagai alat untuk memperoleh kekuasaan. Maka mari menantikan kehancuran provinsi ini jika kita tidak segera berbenah.

Saran dan Kritik yang sifatnya konstruktif silahkan dikirim ke email penulis Nurandrialam@gmail.com

Comments

Tinggalkan Komentar anda