Polemik Feri Mini Terus Bergulir

0

Mamuju,- SuryatopNews.com – Polemik Pengadaan kapal Feri Mini rute Pulau Bala-Balakang yang menelan anggaran Rp 1,9 Milliar, kini terus bergulir.

Mantan Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Mamuju H. Zulkifli saat meninjau kapal tersebut menjelaskan bahwa terkait persoalan Kapal Feri Mini nilai kontraknya sekitar Rp 1, 7 Milliar yang juga ada biaya konsultan dan biaya perencanaan sehingga mendekati Rp 1,9 Milliar.

” Adapun soal ukuran kapal ini panjang 30 meter dan lebar sekitar 7 Meter.”Kata Zulkifli.

Terkait persoalan kenapa sampai saat ini kapal tersebut belum beroperasi itu karena kita baru turunkan dari darat pada 2017 lalu, gunanya untuk mengetahui apa yang menjadi kekurangan.Setelah kita turunkan sudah diketahui bahwa ternyata ada kebocoran dan inilah yang akan kita benahi.

Serah terima kapal tersebut dari rekanan kepada pemerintah daerah itu pada bulan Desember 2017 lalu, dan setelah ditemukannya ada kebocoran maka dalam waktu dekat ini kita akan kandaskan untuk dilakukan perbaikan.”Terang Zulkifli.

“Mengenai persoalan anggaran untuk membenahi kapal ini, itu pihak kami akan membicarkan bersama dengan bupati Mamuju terlebih dahulu.”Imbuhnya.

Sementara secara terpisah Syarifuddin Dewa yang merupakan tenaga Tekhnis pelaksana via telepon mengatakan, bahwa mengenai persoalan pelaksanaan kapal Feri mini tersebut itu terkait persoalan dokumen berupa ijin operasi itu nanti setelah kapal selesai.Karena kita tidak punya dasar untuk mengurus dokumen jika belum ada kapalnya . Setelah itu dikeluarkanlah yang namanya Surat ukur dan Surat Hak kepemilikan .

” Dirinya menjelaskan bahwa dalam proses pengukuran ada yang dikatakan survey kelayakan seperti alat keselamatan, dan itu yang sementara dalam proses pengurusan.

Sementara menanggapi persoalan adanya beberapa kerusakan pada bagian kapal, Dewa menyebut bahwa hampir semua kapal kayu setelah diturunkan dari darat itu akan ada kebocoran, apalagi kemarin itu agak lama diturunkan sehingga konstruk kayu setelah di air akan mengalami perubahan dan jika kapal tersebut ditarik, yah tentu hal ini juga akan menyebabkan perubahan pada bagian kapal.

Sementara mengenai spesifikasi material dalam pembuatan kapal tersebut Syarifuddin Dewa menjelaskan bahwa, itu kayunya sekelas dengan kayu ulin sementara pada bagian lantai itu diakui bahwa memang bukan kayu kelas satu, tetapi menggunakan kayu lokal.

” Adapun persoalan adanya kerusakan seperti kebocoran pada bagian kapal, saya sarankan kepada pihak rekanan untuk segera membenahi, jadi jangan dioperasikan dulu sebelum dibenahi .” Sebut Syarifuddin Dewa.

Saat ditanya soal spesifikasi mesin kapal tersebut, Syarifuddin Dewa menjelaskan itu berkapasitas 320 HP dengan putaran mesin sekitar 2.100 dengan merk China Wicay tetapi berlisensi Jerman .

Sementara pihak pengelolah Tekhnis dalam hal ini rekanan H. Basri mengatakan bahwa pekerjaan kapal tersebut kita mulai pada bulan April sampai Desember 2017 sesuai dengan kontrak yang ada.

” Menurut H. Basri material dari kapal Feri Mini itu didatangkan dari kendari, yang membuat proses pekerjaan lambat karena persoalan material yang didatangkan dari Kendari.

” Perlu saya sampaikan pada bagian bawah yaitu lunas bentangan itu tidak disambung yang juga langsung didatangkan dari Kendari.”Kata Basri.

“Dan kapasitas mesin itu bukan 3.20 tetapi 3.21 HP RPM 2.100 . Dan setelah kita luncurkan saya mendatangkan orang yang dinilai lebih berpengalaman itu dari Bulukumba.”Ujarnyam

Persoalan adanya sejumlah kerusakan itu diakibatkan karena pergeseran pada saat diluncurkan ke laut. Soal ada yang bocor memang kita belum mengetahui, nanti setelah sudah diturunkan baru diketahui.” Jelas Pelaksana Kegiatan ini.

“Mengenai baut yang tembus ke dinding kapal itu sudah sesuai speack, tujuannya untuk mengikat dinding kapal.” Imbuhnya.

Pada bagian ruang kemudi itu dilengkapi dengan alat Radio Komunikasi dan GPS untuk mengukur kedalaman dan rute perjalan serta 40 alat pelampung , tetapi untuk sementara kita amankan dulu.

Di tempat yang sama Kepala Inspektorat Kabupaten Mamuju Muhammad Yani mengatakan, soal pengadaan kapal ini itu sudah diaudit melalui BPK baik fisik maupun kontrak.

Terkait hal – hal yang dalam pengauditan itu dalam proses pembangunan kapal ini masih ada yang kurang, itu sudah dilakukan oleh BPK dan ada beberapa pengembalian” Jelas Muhammad Yani.

” BPK sudah melihat secara langsung kapal ini dan kami dari Inspektorat melakukan hal yang sama, dan sepanjang ada niat baik pihak rekanan tentu kita sambut positif hal itu.”Simpul Yani Rabu (11/07).

Untuk diketahui bahwa upaya pengembalian yang dilakukan oleh pihak rekanan itu kurang lebih Rp 130 Juta.

Adi .

Comments

Tinggalkan Komentar anda