Pendidikan Sebagai Proses Perubahan Peradaban.

0

SuryatopNews.com – OPINI – Oleh : Ahmad Yasir Atmodiredjo (Penasehat Komunitas Anak Manakarra) – Setiap tanggal 2 mei disetiap tahunnya di Negeri ini sebuah ritual seremonial yang saya sebut Hari Pendidikan Nasional. Semua seolah bergembira menyambutnya dengan berbagai cara. Mulai dari upacara, makan bersama, sampai guru – guru yang mendapat cendra mata dari para siswa.

Dunia pendidikan kita secara nasional sesungguhnya mengalami pasang surut. Dulu kita pernah berjaya sampai Negeri jiran Malasyia pun belajar sama kita, Sekarang mereka berjaya sementara kita masih sibuk menjungkir balikkan kurikulum mulai dengan seminar, sosialisasi dan lain sebagainya, kemudian ditetapkan, digulirkan, dan dilaksanakan, tidak lama diganti lagi begitu seterusnya tidak ada habisnya.Sepertinya pendidikan di negeri ini tidak tau mau bermuara kemana ? . Tidak punya visi yang pasti selain mencerdaskan anak bangsa tetapi justru juga mengganggu pencerdasan anak bangsa karena tidak pastinya pola penerapan pendidikan yang di implementasikan.

Berganti mentri pendidikan berganti pulalah kebijakan, hal ini kemudian merupakan masalah yang sangat klasik yang tak pernah usai. Seolah mentripun mau mencari panggung biar dikata hebat. Sungguh menjadi ironi pendidikan di negeri ini.

Sampai kapan hal ini bisa berakhir ?, agak sulit kita menjawabnya karena bangsa ini sudah terjebak kepada ujub diri , tak terkecuali para petinggi negeri. Pendidikan seharusnya menjadi simbol sebuah perubahan perdaban untuk lebih baik, namun justru sudah ikut terkontaminasi .

Lihatlah bagaimana perilaku mentri dan mantan mentri yang seolah saling menyalahkan sebuah kebijakan, sadarkah mereka itu merusak sebuah perdaban yang mulia ?, mereka tidak menunjukkan sikap saling menghormati , saling menghargai dan kasih sayang padahal yang mereka urus adalah pendidikan di negeri ini.

Pendidikan sejatinya adalah bagian dari perubahan peradaban kehidupan untuk menjadi lebih baik, lebih bermoral, lebih berakhlakul karimah,lebih berketauhidan.

Tetapi apa yang terjadi dalam dunia pendidikan di negeri ini ?, virus korupsi sudah menari – nari bukan hanya tarian persembahan seperti serampang dua belas yang lemah gemulai, tetapi tarian bebas yang berjingkrak tampa makna bak diiringi irama musik cadas yang menghentak – hentak. Lihatlah bagaimana jabatan ada harganya seperti barang dagangan di pasar swalayan, lalu dan BOS yang di korupsi oleh kepala sekolah. Ini belum lagi ketika kita ingin menelisik ke jabatan diatasnya, kemungkinan bisa lebih parah, semua sudah menggurita dan menjadi simbiosis multualisme yang amat sangat nyata.

Mengapa ini semua bisa terjadi?, karena dunia pendidikan kita kemungkinan besar banyak diisi oleh orang- orang yang sesungguhnya tidak sepenuh hati di dunia pendidikan bahkan mungkin setengah hati juga tidak. Orang – orang seperti ini sebenarnya tidak memiliki rasa cinta di dunia pendidikan, mereka hanya mau bekerja dan punya gaji untuk hidup. Hasilnya adalah sistem pendidikan yang berparasit berjamur, bervirus dan semua itu menjadi penyakit akut.

Lantas kapan berakhir, Wallahu A’lam Bissawab, tak ada yang bisa menjawab pastinya selama yang haq danang bathil masih abu-abu, selama hukum di negri ini masih abl-abal penerapannya, tetapi kita semua tidak boleh berputus asa, hanya doa yang tersisah kita panjatkan kepada sang pencipta, agar hidayahnya tercurah kepada kita semua.

Hanya doa yang tersisah karena para rajadan ratu yang sudah asyik duduk di singgasana banyak yang tiba- tiba matanya buta, tuli telinganya, dan beku hatinya untuk menerima kebenaran yang nyata. Semoga Allah melindungi dunia pendidikan di negri kita ini Indonesia yang kita cintai,karena di negeri ini jiwa dan raga kita.

Sekian dari penulis , semoga ini dapat menjadi bahan refleksi menyambut Hari pendidikan nasional yang diperingati pada tanggal 2 mei 2016 .

Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatu.

Comments

Tinggalkan Komentar anda