Pemberdayaan Perempuan Setengah Hati Atau Setengah Mati ?

0

SuryatopNews.com – OPINI – Oleh : Wirani Sastri – Ketua Kohati Cabang Manakarra . Sepanjang histori peradaban manusia, peran perempuan sangat besar dalam mewarnai dan membentuk dinamika zaman. Lahirnya generasi-generasi bangsa yang unggul dan kreatif, penuh inisiatif, bermoral tinggi, bervisi kemanusiaan, beretos kerja andal, dan berwawasan luas, tidak luput dari sentuhan peran seorang perempuan/ ibu.

Perempuanlah yang pertama kali memperkenalkan, menyosialisasikan, menanamkan, dan mengakarkan nilai-nilai agama, budaya, moral, kemanusiaan. pengetahuan, dan ketrampilan dasar, serta nilai-nilai luhur lainnya kepada seorang anak. Dengan kata lain, peran perempuan sebagai pencerah peradaban, ‘”pusat” pembentukan nilai, penafsiran makna kehidupan, tak seorang pun menyangsikannya. Namun hal tersebut kini seolah akan menjadi sebuah wacana retorik belaka jika semua kemampuan dan potensi yang dimiliki oleh perempuan tidak di berdayakan.

Diera sekarang ini dimana kita telah memasuki masyarakat ekonomi asean memang tidak mungkin lagi memasung kaum perempuan dalam kungkungan rumah tangga. Mereka juga dituntut untuk memberdayakan potensi dirinya, mewujudkan need of achievement (kebutuhan akan prestasi), dan mengaktualisasikan motivasi intelektualnya. Dalam keadaan seperti ini tentu tidak harus membuat kaum perempuan bisa tampil maskulin di ranah publik dengan capaian prestasi yang seimbang dengan kaum pria. Tetapi, sekaligus tidak menanggalkan sifat femininnya di ranah domestik yang tetap menjaga kelembutan, sikap keibuan, dan ketulusan kasih sayang terhadap suami dan anak-anak. Dengan sosok ini, kaum perempuan tetap akan mampu memaksimalkan perannya sebagai pencerah peradaban; peran luhur dan mulia yang sudah teruji lewat sejarah peradaban yang panjang, walaupun sang ibu sibuk meniti karier di panggung publik.

Kenyataan yang ada ketika dirtarik dalam provinsi Sulawesi Barat seolah wacana pemberdayaan perempuan kini melahirkan pertanyaan yakni , ” Pemberdayaan perempuan setengah hati atau setengah mati ? ”. Hal ini tentu bukan tampa lasan sebab dalam kacamata kami terkhusus di Korps HMI – Wati Cabang Manakarra terkadang memiliki konsep atau gagasan yang akan kami lakukan terkhusus di lembaga keperempuanan itu sangatlah sulit, sebab dukungan dari pemerintah baik ditingkat Kabupaten maupun provinsi kami berani mengatakan sangat minim. konsep pemberdayaan perempuan kini terlanjur ditelan mentah-mentah oleh masyarakat awwam yang tidak kritis terhadap wacana tersebut, sehingga lewat goresan sederhana ini, penulis ingin mengatakan sebesar apapun wacana pemberdayaan perempuan itu digaungkan oleh pemerintah akan berujung pada hal yang akan bersifat sia- sia jika pemerintah tidak menopangnya.

Kiprah perempuan dalam mengisi pembangunan daerah tentu tidak mesti diragukan lagi, selain itu sebuah fakta histori dapat disaksikan dimana peran perempuan semnejak masa peran banyak kaum perempuan yang terlibat secara sukarela sebagai anggota Palang Merah yang bertugas mengobati para pejuang yang terluka saat berperang, selain itu perempuan juga sebagai pendorong pembangunan, maka di situlah pembangunan akan berjalan.menafsirkannya jangan buruk dan baik. Kalau perempuan jadi agen pembangunan, jadi penggerak pembangunan, maka di negeri itulah bergerak pembangunan.
Dari dasar itulah kemudian penulis berharap kepada pemerintah baik tingkat Kabupaten Maupun Provinsi betul betul mampu memaksimalisasikan kemampuan perempuan lewat pemberdayaan, bukan hanya menjadi sebuah wacana, sebab potensi yang dimiliki perempuan itu cukup besar namun membutuhkan sebuah spirit lewat pemberdayaan, seperti misalnya pemberdayaan di kegiatan- kegiatan yang bersifat membangun kreatifitas, inovasi dan penguatan intelektual. Begitu banyak LSM yang bergerak dalam bidang perempuan yang semestinya di back up oleh pemerintah dalam menjalankan semua program-program yang kini ditawarkan yang tenytunya berangkat dari gagasan yang sifatnya konstruktif demi kemajuan daerah Provinsi Sulawesi Barat.

Demikian tulisan sederhana ini, tentu dengan segala keterbatasan yang penulis miliki , sehingga saran yang sifatnya mengarah pada ke hal- hal yang konstruktif dan sekaligus jadi bahan referensi kami kelak untuk berkarya dapat di kirim Via Email : Wirani@gmail.com.

Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatu .

Mamuju – 12 Februari 2O16.

Comments

Tinggalkan Komentar anda