Merasa Terintimidasi, Pembelajaran Sekolah Kolong Ikut Mandek

0
Aco Muliadi (pendiri sekolah kolong) .

SuryatopNews.com – Mamuju Tengah – Nasib Sekolah Kolong atau yang lebih dikenal juga dengan sebutan Sekolah Alam Mengeja
Belantara yang Terletak di Dusun Batu Papan, Desa Salule’bo Kecamatan Topoyo Kabupaten Mamuju Tengah kini semakin memprihatinkan dan aktifitas pengajaran mandek.

Aco Muliadi yang merupakan pendiri sekolah kolong ini menjelaskan apa yang menjadi penyebab aktifitas pengajaran berhenti, yang diakibatkan adanya dugaan intimidasi yang dilakukan oleh beberapa orang dengan mengatasnamakan kepala Desa Salu Le’bo.

Proses pembelajaran sekolah kolong Salu Le’bo.

“Pada hari jumat dan sabtu tepatnya pada tanggal 7-8 september -2018 proses pembelajaran kami tidak ada, dikerenakan fasilitas berupa bangku dan kursi dipindahkan beberapa orang yang mengatasnamakan suruhan kepala desa.”Terang Aco Muliadi saat dikonfirmasi via telepon minggu (10/09).

Lebih jauh dirinya menjelaskan bahwa, tentu saya tidak bisa menahan dan tidak punya kewenangan jika anak didik kami dipaksakan masuk kedalam gedung sekolah yang di bangun oleh pemerintah sejak beberapa tahun silam, karena pada saat itu kondisi psikologi saya dalam keadaan kaget dan tertekan didatangi secara tiba – tiba sejumlah orang yang menurut informasi adalah merupakan suruhan dari kepala Desa Salu Le’bo.

Sejumlah penggiat Literasi Kunjungi Sekolah Kolong Salu Le’bo.

Dari kejadian tersebut tentu kami sangat dirugikan dimana sudah dua hari aktifitas pengajaran terhambat dikarenakan siswa kami merasa ketakutan dan termasuk para orang tua mereka.”Kata Aco Muliadi.

Selain itu kata dia bahwa proses penginputan data ikut terganggu terkhusus kelas 1 SD dan kelas 6 SD termasuk kelas 7,8,9 SMP yang berpotensi akan terdiskualifikasi menjadi peserta ujian jika datanya belum rampung.”Jelas Aco Muliadi.

Hal lain adalah salah satu sislwa kami bernama Sahrul mengalami stres dan memutuskn pulang dan berhenti sekolah akibat adanya hal tersebut.” Imbuh pria yang berusia 50 Tahun ini.

Pendiri sekolah kolong bersama dengan komunitas Hypatia.

Dari beberapa hal yang terjadi saat ini maka terkait jika ada upaya memindahkan para siswa menempati gedung sekolah tersebut maka perlu kami jelaskan bahwa, sejak awal gedung tersebut sudah bermasalah dimulai papan proyek yang tidak ada sejak dibangun, kondisi bangunan yang mengalami kerusakan hingga masyarakat sendiri yang berinisiatif untuk membenahi dan sampai hari ini belum ada proses penyerahan secara resmi. Sebab jika terjadi sesuatu seperti roboh saat dilakukan proses pengajaran maka siapa yang kemudian akan bertanggung jawab .Sehingga tentu ini yang menjadi problem kita selama ini.”Sebut Aco Muliadi.

Sebenarnya jika kita ingin melihat secara objektif kondisi geografis wilayah Desa Salu Le’bo ini maka mungkin akan dipahami bahwa mengapa kami lebih memilih mendekatkan pengajaran kepada anak didik atau siswa dibeberapa wilayah diantaranya Dusun Batu Papan, Dusun Salu Nusu, Dusun Salu Tahu dan Kilometer 18 .” terang Aco Muliadi.

Foto bersama sekolah kolong.

Ada dua titik pembelajaran kami saat ini terancam terhenti yaitu di Dusun Salu Nusu dan Dusun Batu Papan Desa Salu Le’bo dengan adanya upaya pemaksaan menempati gedung tersebut .”Jelas Aco Muliadi.

Sementara salah satu warga Desa Salu Le’bo Rusdi Liga mengaku bahwa kami justru tidak menginkan anak – anak kami menempati gedung sekolah tersebut dengan pertimbangan bahwa sekolah kolong atau sekolah alam itu yang kami anggap lebih baik untuk anak – anak kami.

“Intinya kami berharagp ada bantuan dari pihak manapun untuk tetap bisa mempertahankan keberadaan sekolah alam itu.”Simpul Rusdi Liga.

Proses belajar siswa sekolah kolong.

Untuk diketahui bahwa secara history Berbekal arang kayu sisa pembakaran sebagai kapur tulis, dinding papan rumah masyarakat dan mimbar gereja sebagai tempat menulis, sekolah ini mulai didirikan oleh  Aco Muliadi sejak tahun 2004 silam.

Sekolah Kolong diperuntukkan
bagi anak-anak petani dan suku hutan dalam (suku to pembuni). Dan penghujung tahun 2011, Aco Muliadi sudah mendirikan lima sekolah alam yang tersebar dibeberapa dusun. Kondisi geografis, tidak adanya akses pendidikan formal,
tenaga pengajar, memaksa penggagas sekolah kolong membuat metode pembelajaran
“tutur sebaya”. Dimana tutur sebaya merupakan pembelajaran yang terpusat pada siswa,
dalam hal ini siswa yang telah memiliki kematangan pengetahuan akan menjadi tenaga
mengajar buat siswa yang lain. Metode ini tumbuh secara alamiah dan berkelanjutan.

Adi.

Comments

Tinggalkan Komentar anda