Menjaga Keutuhan, Merawat Generasi

0

SuryatopNews.com – Kini, banyak yang menilai kehadiran organ mahasiswa di luar kampus hanya menciptakan kekacauan, alih-alih berkontribusi positif untuk perubahan masyarakat. Nada satir ini bukan tanpa alasan. Lihat saja cara-cara ‘kuno’ yang masih dipakai organ-organ mahasiswa kala ‘membaur’ dengan ‘konstituen’ yang diklaimnya. Misal, mau  menyampaikan aspirasi mesti macetkan jalan atau mencemari udara. Mau meracik ide-ide perubahan, mesti dengan pertikaian ala gangster. Apa pasal?

Ricky Valentino menilai, nada satir itu ada yang sifatnya alamiah dan artifisial. Secara alamiah, hal itu disebabkan karena memang ada sesuatu yang salah di tubuh organ mahasiswa. Misal, manajemen kelembagaan dan sistem perkaderan. Baik-buruknya kedua hal ini berpengaruh signifikan dalam pembentukan citra organisasi di luar. Dengan kata lain, apapun yang ditunjukkan oleh organ mahasiswa itulah yang membentuk opini masyarakat.

“Dan yang sifatnya artifisial, lebih banyak dipengaruhi framing citra ciptaan modal dan kuasa di luar organ mahasiswa. Ini dilakukan secara massif dan terencana. Aktornya sangat mahir mencuri momen paling tepat. Jenis kedua ini banyak dilakukan oleh beberapa media, terutama yang punya riwayat ‘perang’ dengan organ mahasiswa bersangkutan”, tandas Kandidat Ketua Umum PB HmI ini.

Meski demikian, Ricky berpendapat bahwa organ-organ mahasiswa termasuk HmI tidak perlu latah, apalagi marah menyikapi narasi citra ala kaum satiris. “Silahkan marah, tapi marah bahwa rumah kita (baca: organ mahasiswa) belum memberikan apa-apa pada umat dan bangsa. Silahkan latah, tapi latah dalam gerak untuk kemajuan umat dan bangsa”, ungkapnya.

Untuk itu, menurut Ricky, hal paling urgen dan strategis dilakukan organ mahasiswa saat ini, terutama di tubuh HmI adalah Konsolidasi Antar Elemen Mahasiswa, Rekonstruksi Arah Gerak Perjuangan, Reformasi Kelembagaan, dan Reorientasi Perkaderan.

“Mengapa ke empat hal ini mendesak dan strategis? Medan perjuangan di ruang-ruang keumatan dan kebangsaan di Era Digital ini jauh lebih berat dan kompleks di setiap segmentasinya. Saat ini, hampir tidak ada satu pun kejadian di muka bumi yang tidak melibatkan banyak aktor. Artinya, ketika kita bicara problem solving, kita tidak hanya dituntut memetakan masalah dalam bingkai lokalitas tetapi juga regional bahkan global untuk solusi-solusi yang mungkin selaras dengan jargon Better, Cheaper, Faster, and Easier”, jelas Ricky.

Selain itu, menurut Ricky, aktivis organ mahasiswa saat ini tidak hanya dituntut punya keterampilan teoritis tetapi juga dalam detail-detail teknis. “Perihal hal MEA misalya, yang sebentar lagi masuk. Sebagai aktivis mahasiswa, kita tidak hanya dipaksa mengkonsumsi teorinya, tetapi juga menciptakan ide-ide kreatif dalam detail-detail aplikasinya. Dengan begitu, kontribusi kita akan lebih nampak, apalagi faktanya mayoritas masyarakat kita belum siap.

“Singkatnya, saat ini organ mahasiswa tengah ditantang untuk berkontribusi signifikan dalam menghadapi masalah-masalah keumatan dan kebangsaan. Tetapi, bagaimana mungkin kita mampu memainkan peran-peran strategis itu ketika kita masih terjebak dalam urusan internal organisasi yang seringkali tidak produktif dan menyedot energi?”, tandas Ricky.

Karenanya, Ricky memastikan bahwa ketika dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Umum PB HmI Periode 2015-2107 nanti, langkah pertamanya adalah melakukan Konsolidasi Antar Elemen Mahasiswa, terutama dalam lingkaran CIPAYUNG. Dengan langkah ini, Ricky berharap elemen-elemen mahasiswa dan juga pemuda dapat bergerak dan berjuang bersama. “Saya berharap besar, dengan langkah ini, kita mau saling merangkul. Mari mengintensifkan komunikasi dengan berbagi gagasan, merumuskan rencana kerja-kerja nyata untuk kemanusiaan. Mari kita jaga keutuhan dan merawat generasi. Yakinlah, #Sukses (Untuk Perjuangan) Itu Ada”, kunci Ricky.

(Zulkifli/Ad).

Comments

Tinggalkan Komentar anda