Mengenal Bakri Latief, Sang Pua Tokke Yang Tak Ingin Jadi Tokke.

0

SuryatopNews.com – OPINI – Oleh : Muhammad Munir (Manajer Rumah Pustaka) – Pertama berkenalan dengan beliau ketika secara kebetulan saya dipanggil oleh Darmansyah (Ketua MSI Sulbar dan DPRD Majene).Saat acara balaqah budaya yang di helak oleh Yayasan Passemandaran di rumah adat Husni Djmaluddin Tinambung (mei 2015).

Lalu pada saat launching Lontraq digital di rumah buku (Sekarang Rumah Pustaka-Kandemeng) beliau sempat hadir bersama Darmansyah,Hamzah Ismail,Asri Abdullah,Nurdin Hamma,Muhammad Ridwan Alimuddin,Ridwan (Disbudpar).

Muhammad Rahmat Muchtar, dalam puisinya yang berjudul Tokke Danpuji  justru lebih dahulu saya ketahui daripada mengenal penulisnya. Berkat wadah MSI (Masyarakat Sejarawan Indonesia) Cabang Sulbar yang kerap mengadakan diskusi,seminar dan silaturahmi,membuat saya lebih banyak berkenalan dengan tokoh-tokoh mandar yang menginspirasidalam melisan tuliskan mandar.

Bakri Latief adalah sosok yang nyaris tak ada waktu yang tersisah selain tersedak,teratawa dan terbahak saat bertemu,terlebih disaat membaca puisi.Penasaran dengan sosok beliau saya teringat bahwa Muhammad Ridwan Alimuddin pernah menulis profil singkat beliau.

Seperti yang ditulisnya dalam sebuah catatan,Bakri Latief akrab dipanggil papa’Dita,seorang seniman mandar yang masih berkarya hingga saat ini.Dia lahir  di Tinambung kawasan calo-calo pada(1949).Menyelesaikan pendidikan SR pada (1962) di makssar, SMP(1965)Makasar Smea Tinambung (1968),PGSLP Jurusan gambar pada pada 1969 di Makassar, dan S1 Jurusan Seni Rupa di IKIP Ujungpandang pada 1986.

Selesai menuntut ilmu di makassar dia kembali ke mandar untuk kemudian mengabdi sebagai guru honor di PGA Tinambung (MTsN sekarang) pada 1969 sampai 1971. Pada waktu yang bersamaan, juga aktif di bidang teater bersama pekerja seni di Tinambung waktu itu, misalnya Ahmad Patingari dan kawan-kawan.

Pada tahun 1986 Bakri Latief terangkat menjadi PNS Museum Negeri Lagalingo Sulawesi Selatan yang berkantor di Benteng Fort Rotterdam, dekat pantai losari.Selain sebagai abdi negara, dia juga aktif mengisi acara “Mari Menggambar” dan “Ayo Berkarya” di TVRI Ujungpandang, dari 1987 hingga 1993.

Gara-gara dia berperan sebagai pembawa acara melukis tersebut, dia mendapatkan gelar “Paktino Sidin-nya Sulsel” Kebetulan atau tidak, Bakri Latief dalam kesehariannya juga mengenakan topi khas Pak Tino Sidin dan Putu Wijaya (Seniman Teater).

Masuk millenium Bakri Latief juga diminta membagi pengetahuannya di PGTKI-PGSD-STAI-DDI Polewali, PGTKI-PGSD Universitas Muhammadiyah, dan Pesantren Ummul Mukminin Aisyiah Makassar.

Berlangsung dari 2001 hingga 2008. Sejak pensiun sejak tahun 2005, selain melukis, Bakri Latief mengisi waktu luang dengan menulis puisi berbahasa mandar, menulis ribuan buku yang berisi nama-nama dalam bahasa mandar, dia juga menulis buku tentang “Kalindaqdaq mandar moderen”.

Pada suatu pagi dipenanggalan 5 Januari 2016, dalam sebuah diskusi di rumah pustaka yang kebetulan yang dihadiri oleh Nurdin Hamma bersama Tammalele, H.Ahmad Asdy, Syaharuddin Madju, Samar, dan lain-lain.Saya secara pribadi meminta naskah dari puluhan karya-karya beliau untuk diterbitkan. dan beliau tertarik dan mengatakan sudah bertahun-tahun saya menunggu tawaran seperti itu dan baru hari ini tawaran dan do’a saya di ijabah oleh tuhan yang maha esa.

Demikian iya mengatakan kepada saya dan berjanji akan menyerahkan naskahnya. Benar saja, malam harinya, beliau datang membawa flash disk untuk mencopy file-file tulisan di laptop saya. Dan bukan hanya naskah puisinya yang diserahkan. Ada empat buah naskah, 3 dalam bentuk file dan 1lagi dalam bentuk softcopy.

Naskah puisi sufistik, kumpulan nama-nama mandar dan puitisasi AL-Qur’an Juz Amma dan kumpulan puisi mandar.Dalam puisi mandar itulah, saya menikmati dan menyelami bait demi bait puisi yang beliau tulis pada tahun 2007 lalu, hingga sampai pada judul Tokke Saya Tertawa dan sampai pada akhirnya sampai pada pembacaan saya bawa Bakri Latief adalah salah seorang seniman besar mandar yang generasi sekarang mungkin tidak terlalu banyak orang mengenalnya.

Tokek dalam bahasa mandar disebut “tokke”, hanya beda letak huruf ” K”. Binatang ini salah satu binatang paling terkenal yang habitatnya di tempat tinggal manusia (ruma), selain nyamuk “anamoq”, tikus “balao”, dan cicak “sassaq”. Cicak masih berkerabat dengan tokek, sama sam binatang reptil.Belakangan, pamor tokek lagi menanjak, harganya bisa sampai jutaan. Sedang cicak tak ada yang spesial selain sebagi predator nyamuk.

Puisi tokke itu sendiri, pertama saya mendengarnya saat dibacakan pada sekitar tahun 2012 lalu, di sebuah dusun terpencil bernama Pombuttu Desa Sumarrang. Saat itu beliau hadir bersama Arifuddin Toppo (Ka. Disdikpora Polewali Mandar).Dan baru pada tahun 2015 saya bersyukur bisa mengenal dan dekat dengan sosok yang sering saya berkelakar dan mencandainya dangan puaji tokke.

Tokke memang menjadi satu – satunya binatang yang orang mandar percanyai bisa meramal adalah tokek.Bisa dipastikan, saat ini, bila tokek bertokek, maka akan ada yang (mungkin diam-diam dalam hati) mengikuti bunyi tokek tersebut.

urangi”, tokkeee, “andiangi”, tokkeee, “urangi”, … dst. “Urangi” berarti (akan) hujan, “andiangi” berarti tidak (hujan). Jadi misalnya tak ada bunyi “tokkeee” lagi setelah kata “urangi” maka akan hujan, Demikian sebaliknya, tidak akan hujan bila kata terakhirnya “andiangi”.

Benar tidaknya wallahu a’lam. pembacan kita pada tokek di mandar juga sampai pada poroses kebiasan tokek yang meneriakkan namanya “Tokke !”, entah dari balik lemari atau di balik tiang rumah atau dalam keadaan terpenjara dibalik dinding atau sangkar, ia bahkan tidak akan meneriakkan selain namanya. Dan ternyata hal tersebut terbawa kedalam pemberian gelar.misalnya” mentokke boi I kaco”. Umpamanya si kaco ini sering banyak bicara.

Beberapa lama kemudian, dia lebih banyak diam saat dia kembali banyak bicara, maka dia bisa dikatakan “mittokke boi”. Atu kalu ada yang tiba tiba berteriak atau bicara pada sebuah forum, dia bisa disebut “mittokke”.

Nah, Bakri Latief mengabadikan tokek itu dalam puisinya yang berjudul tokke: mae’di tau mittokke // tokke satokke – tokke na // tokke mittokke // tokke towandi moitia // tokke’ // urangi’// tokke’ // andiangi // tokke’ // tokke’ // tokke’ // urangi’ // andiangi’ // urang’ // andiangi tokke’ // andiammi dissang inna urang // inna andiang // urang tokke urang // andiang // inna tau inna tokke // inna tau mittokke // dao sangga pittokke // minjari tokke manini.

Puisi “tokke” memang sering dibacakan dalam setiap pertemuan dan diskusi yang saya ikuti bersama beliau. Dan hanya orang yang tuli saja yang tak terpingkal-pingkal mendengarnya. Ini karena puisi beliau itu lucu, dan lebih – lebih pembaca puisinya.Salah satu yang saya kagumi dari sosok beliau saat tampil membacakan puisi-puisinya yang beragam tema, ada tema jenaka, kritik sosial, tradisi, lingkungan, keagamaan, dan pendidikan.

Orang mendengarnya mungkin jika saya tau yang lain yang membaca puisi “Guru, so’naimo lao” (menggambarkan ironi cita-cita kebanyakan orang mandar yang ingin menjadi guru). “Puqaji” (betapa gelar Haji menjadi begitu penting dalam meningkatkan status sosial seseorang di masyarakat), saya yakin banyak yang tersinggung dan bahkan bisa langsung marah. Bagi Bakri latief, itu tak berlaku.

Puisi yang beliau baca sesungguhnya menampar para puaji dan guru, tapi anehnya mereka malah ikut tertawa. Inilah yang lain dari sosok Bakri Latief. Ia makhluk paling langka di tanah Mandar hari ini, bahkan seratus tahun kemudian, tak ada jaminan sosok ini akan lahir lagi di Mandar. Memang banyak pelawak yang berwawasan luas, tapi hanya melucu dan tak ada pesan yang disampaikan. Dan Bakri Latief selain melucu, sekaligus mengkritik, dan kritikannya itu adalah tamparan keras bagi yang dikritiknya.

Perhatikan puisi mandarnya yang berjudul Pu’ayi: Dilita’ Mandar mae’dimi to pole di makka//di galar pu’ayi di pasitindor sangana// sawa’ awiasang sangga’ di illongngimi//pu’ayi tommuane pu’ayi towaine// biasa towandi sangga’ di illingngi pu’ayi// narua nasammi tommuane anna towaine// sare sissangammi sare dipahammi//. Marrupa-rupai tokkona pu’ayi// diang pu’ayi macai’i mua’andiangi di illongngi pu’ayi// diang pu’ayi macai’ mua’ andini diaya di peuluang mikkoro// diang pu’ayi mokai mua’ andiangi siola// mua’mambai meantar tonanikka// diang pu’ayi andiangi melo’mattarima undanganna// mua’ andiangi ditulis diolo sangana// dst….

Puisi berjudul Guru So’naimo Lao tak kalah kerasnya menguliti para guru:…guru, diang pepatah ma’ua// guru kencing berdiri// murid kencing berlari// dite’e di’e la’bi pai tia pole’// guru anna murid// sisalle lo’maeang sitittemei// andiammi di issang// inna guru inna murid// so’naimolao//…….

Selain Pu’ayi, Guru, Para pengambil kebijakanpun ia sasar melalui judul Paissangang Bulili’:…….pati-patiroia bulili’// uwengappao bulawang// sakkatoang bulili’// annaibulili’// diotowandimotia mia’ sanna-sannang// di ponna ayu mattattangai andena// namopole// lali’pole// ulli’pole// pissangi tilluna’// naollor nasangi naung diare’na// anna’ manarattoi ibulili’ missalle uli’//

Pada alinea selanjutnya Bakri Latief semakin nakal memanjangkan nalar kritisnya dengan sengtilan-sentilan yang keras yang menyorot kehidupan para pemangku kebijakan (baca:pejabat, pengusaha, atau yang lagi trend Pepeng).

Bakri Latief menulis: mua’ daung kurarra naengei mittora// kurarra’ naengei mittora// kurarra’ toi uli’na// mua’ sikola’iponna na ayu naengei mitteke// sikola’toi uli’na// iya wandimo anna’ diang// pangulu banua tappa sugi’ silalonna// sangga mikkoro mapaca’dika’derana// marrekeng-rekeng maccoro-coronni// inna womo mala ditillu doi’na// kuitansi apa womo nadi papia// mau tandiang mannasa jamanna// barang-barang apa na dikurangngi allinna// ditambai lalang di kwitansi// iyami dzi’e disanga pa’issangang bulili’//…….

Demikianlah sosok seorang Bakri Latief dalam pandangan saya. Saya mungkin tak bisa menjadi hebat sehebat beliau, lucu selucu beliau. Tapi satu hal yang membuat saya bahagia, karena selama di Tinambung ini, saya banyak beradaptasi dengan tokoh-tokoh pemikir, pembaharu dan tokoh-tokoh muda Mandar yang multi talent, terlebih bisa secara dekat dengan orangtua senior, sodara-sodaraku di Teater Flamboyant Mandar. Dalam pandangan saya Flamboyant adalah wadah yang sekaligus forum berfikir yang kemudian fikiran-firan itu terejawantah, terbaca dan terfaktualkan.

Hingga pada kesimpulan terakhir bahwa kalian dalam “Mengagumkan”.

Semoga kedepan naskah puisi mandar Bakri Latief, naskah kumpulan nama-nama putra-putri Mandar, Antologi puisi Sufistik:penggambaran sunyi dan naskah kalindaqaq modern karya Bakri Latief yang pertanggal 6 januari di serahkan ke manajemen Rumah Pustaka yang dalam setiap pergerakan literasinya lebih fokus kepada bagai mana Mandar menulis, menulis Mandar sebagai persembahan pada upaya Gerakan Indonesia Menulis. Salam Literasi !

SuryatopNews.com.

Comments

Tinggalkan Komentar anda