Mendayung Ditengah Badai

0

SuryatopNews.com – OPINI – Oleh : DR H Suhardi Duka – Kenyataan  bahwa kelas menengah dalam suatu masyarakat Akan selalu mengambil peran untuk membawa perubahan dalam masyarakat.  Sebagai Sebuah perlawanan dalam oligarki politik penguasa, yang menyebabkan ketidak adilan dalam masyarakat. Oligarki bukan hanya menyebabkan kemiskinan Dan ketertinggalan, tapi juga bisa melukai hati masyarakat akibat tumpulnya hukum bagi penguasa.

Di beberapa negara gerakan civil society cukup sukses dalam memobilisasi komponen masyarakat yang merasa dikecewakan Oleh penguasa untuk bersatu dalam pemilu. Katakanlah gerakan di Turki kelompok Islam bisa berkuasa karena mereka yang dikecewakan Oleh kelompok sekuler dan  neoliberal, kemudian bersatu untuk memobilisasi kekuatan yang dikecewakan walaupun mereka secara mendasar juga Ada faksi Dan perbedaan.

Sama halnya kemenangan tramp, pada pemilu Amerika karena kaum nasionalis terprovokasi dengan perlawanan kaum imigran yang telah dinilai sukses Dan menjadi ancaman Bagi Amerika kulit putih.

Oligarki Dan dinasti keKuasan Akan selalu menjadi ancaman Bagi keadilan dalam masyarakat

Karena sulitnya rakyat mengontrol  penggunaan sumber daya negara ataupun lokal dari keKuasan itu sendiri.  Untuk itulah hasil penelitian selalu merekomnedasikan agar terciptanya Demokrasi yang sehat Dan seimbang antara keKuasan Dan kontrol. Kuatnya kontrol terhadap keKuasan Akan menyelamatkan keKuasan itu Dari penyimpangan Dan penindasan. Hukum harus selalu menjadi aturan main Dari semua institusi Dalam masyarakat, hukum tdk boleh di jadikan alat penekan untuk kepentingan sepihak.

Fakta Dan kondisi Indonesia saat ini, secara kasak mata, Adanya hukum di bawah tekanan kekuasaan, hukum semakin pandangan bulu. Desertasi Habib Rizig Sihab, tentang Pancasila yang ditulis Dan dipertahankan di universitas kebangsaan malaisya untuk gelar doktor (S3) Sejatinya adalah karya ilmiah. Sebuah karya ilmiah tentu bebas Dari kepentingan politik Dan ideologi tertentu tapi obyekif berdaarkan hasil penelitian Dan kerangka teorinya, namun kita dipersoaalkan Oleh Polisi.

Beda halnya dengan Ahok, setumpuk persoalan yang telah dilalui tapi hukum tidak berdaya, adakah penegak hukum yang mampu meneyntuhnya ?,,,,,,,,

Hasil audit BPK tentang pembeliah RS. Sumber Waras, yang secara terang menyatakan terjadi keugian negara Lebih Dari 100 M. Tapi Setelah ditangan penegak hukum justru dibalik BPK lah yang salah mengaudit.

Antasari Ashar, yang telah melalui proses pradilan mulai Dari pradilan pertama, (PN)  banding di PT. Dan kemudian kasasi di Mahkamah Agung, tetap dinyatakan bersalah. Selanjutnya pengajuan peninjaun kembali sbanyak 2 kali juga tetap dinyatakan bersalah Oleh hakim, sekali lagi Oleh hakim.

Tiba tiba diberi grasi dan keluar seperti pahlawan menyerang SBY. Ini  Ada dihadapan kita  bangsa Indonesia saat ini, hukum mulai dimainkan sesuai solera politik penguasa.

Sebagai salah seorang pengamat kehidupan sosial Dan politisi saya Ingin merekomnedasikan kepada kita semua, agar rakyat bisa sadar berpikir Dan berani menentukan nasibnya sendiri, jangan selalu tergantung Dan mengemis dgn kekuasaan. Rakyat itu mahal tapi menjadi murah akibat pessimisme yg berlebihan, akhirnya harga suaranya tdk Lebih dari 100.000.  Pada akhirnya politisi tdk  memperbaiki kebijakan justru akan menjadikan keKuasan jauh Dari kepuasan publik.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia sesungguhnya sudah dapat meningkat Dan memperbaiki kesejahtraan rakyat, namun ratio Gini dalam masyarakat tetap lebar, satu sisi Ada yang sekaya kayanya dan disisi lain Ada yang semiskin miskinnya.  Bagi kita semua ini adalah badai yang harus sitembus Oleh gerakan sipil society harus berani mengarunginya walau iya mendayung.

Kaum intelektual sebaiknya merefleksi kembali cars pandangnya dalam melihat Demokrasi yang saat ini berjalan. Sekat suku tidak bisa memasung cars pandang kita dalam berdemokrasi yang bisa melemahkan intelektualisme kita. Sejatinya kaum intelektual bisa memberi jalan tapi justru menutup jalan. Kampus2 sebaiknya Lebih bebas untuk menyuarakan jalan yang terbaik untuk pemerintah Dan rakyat, kritik yang Lebih membangun tidak justru menjadi bagian dari kemunduran cars berpikir.

Jangan pernah menyesali masa depan tapi masa lalu Akan menjadikan kita dewasa, dalam memandang setiap realitas sosial Dan demokrasi, Presiden Jokowi mengeluhkan demokrasi yang  kebablasan perlu di jadikan pembuka kesadaran kita semua.

Comments

Tinggalkan Komentar anda