Memupuk Nilai Intelektual, Formasi Manakarra Gelar Diskusi Budaya

0
Terlihat Syarifuddin Mandegar Dan Suparman Sopu, M.pd Selaku Narasumber

Mamuju,- SuryatopNews.com – Sebagai Upaya memupuk nilai intelektual dikalangan Mahasiswa dan Pelajar. Forum Silaturahmi Mahasiswa Manakarra ( Formasi Manakarra) menggelar diskusi Budaya pada Sabtu (10/02).

Kegiatan yang dilaksanakan di salah satu Warkop di Mamuju yaitu  Ngalok Rock Cafe, turut dihadiri oleh sejumlah pelajar dibeberapa sekolah yang ada di Mamuju, perwakilan Pemuda dan Mahasiswa berjalan dengan lancar.

Indra Cahyadi selaku ketua panitia pelaksana kegiatan mengatakan, dalam diskusi ini kami mengangkat tema ” Hibryditas Budaya Persfektif Generasi Milenial ” dengan tujuan agar para generasi muda kita khususnya di Mamuju ini lebih jauh mengenal budaya kita ditengah arus globalisasi saat ini.

Tentu merupakan tantantangan bagi kita dengan adanya percampuran budaya dalam hal  ini Hibryditas budaya yang pada akhirnya kita tidak mampu mengenal budaya kita sendiri. Sehingga diskusi seperti ini perlu kita galakkan terus.”ujar Indra Cahyadi.

Peserta Diskusi Budaya Sabtu (10/02)
Peserta Diskusi Budaya Sabtu (10/02)

Sementara itu ditempat yang sama ketua Umum Formasi Manakarra Afrianto mengatakan, diera milenial saat ini tidak dapat dipungkiri bahwa identitas kebudayaan kita sudah mulai terdistorsi akibat arus globalisasi yang kian pesat.

Tugas kita sebagai Mahasiswa dan Pemuda merawat orisinilitas budaya yang saat ini tergerus, sehingga diskusi seperti ini dipandang perlu untuk selalu kita rawat.” Ujar Afrianto.

Dalam kegiatan tersebut Menghadirkan Narasumber yaitu Syarifuddin Mandegar yang merupakan penggiat Sosial dan salah satu tokoh budaya Suparman Sopu, M.pd.

Sejumlah Peserta Diskusi Pada Sabtu (10/02)
Sejumlah Peserta Diskusi Pada Sabtu (10/02)

Pada kesempatan tersebut Syarifuddin Mandegar yang juga merupakan Direktur Eksekutif Manurung Cultural Center Sulawesi Barat menjeslaskan bahwa bicara Hibryditas Budaya maka kita akan membahas adanya percampuran budaya atau proses asimilasi budaya saat ini.

Perlu dipahami bahwa saat ini memang adanya sebuah  pergeseran nilai akan kebudayaan kita, budaya kita sudah mulai tergantikan dimana yang lama sudah mulai tergeser dengan kehadiran budaya baru.”papar Syarifuddin Mandegar.

Lebih jauh Pria yang akrab disapa Udin Mandegar ini menambahkan bahwa, menurut Glory budaya kita bukanlah prontal, dengan adanya Hibryditas budaya itu kita  kemudian  tinggalkan identitas kita sendiri.Kita sedang tidak sadar bahwa kita sedang mengelolah budaya org lain .

Sementara Suparman Sopu ,M.Pd yang juga merupakan salah satu tokoh budaya yang ada di Mamuju menyebut bahwa jika kita bicara budaya maka tentu kita akan sampai pada pemahaman bahwa Manusia selalu akan diperhadapkan pada adaptasi dan tantangan terhadap alam semesta.

Lewat adaptasi dan tantangan ini sehingga melahirkan kebudayaan. Dimana budaya itu senantiasa bersinggungan dengan bahasa atau komunikasi.”Ujar Suparman.

Kita harus mengenali budaya kita sendiri, termasuk bahasa kita sebagai identitas sebab kecenderungan hari ini kita mengaku sebagai orang Mamuju misalnya tetapi kita tidak tau bahasa Mamuju itu sendiri.”Terang Suparman.

Bicara Hibryditas Budaya maka kita akan sampai pada pemahaman bahwa adanya percampuran yang kemudian melahirkan identitas baru dalam sebuah budaya. Untuk itu kita harus tetap senantiasa belajar mengenal budaya kita sendiri dengan cara senantiasa memahami wujud kebudayaan lewat aktualisasi konsep, ide atau gagasan – gagasan yang ada.”Kunci Suparman Sabtu (10/02).

Untuk diketahui bahwa dalam kegiatan ini Suparman yang dikenal salah seorang jebolan sastra ini mengawali dengan sebuah puisi dan menutupnya dengan sebuah lagu sayang – sayang khas mandar.

Adi.

Comments

Tinggalkan Komentar anda