Manakarra Grenner Dan Pendidikan Marginal

0

SuryatopNews.com – Mamuju – Dunia pendidikan memang adalah hal yang kemudian dianngap menjadi sebuah pondasi dasar dalam 

membangun sebuah daerah, dimana hal ini yang menjadikan kualiatas sumber daya manusia akan lebih baik.

Komunitas Manakarra Grenner dengan melihat sejumlah sekolah dasar yang masih terbilang tertinggal sehingga mereka
kemudian berani menceburkan diri dalam hal ini yang kemudian membentuk kelompok pendidikan non formal.

Salah satu aktifis Manakarra Grenner Nurul Ilmi Herman mengatakan,sejumlah agenda yang saat ini kami lakoni dimana
mendatangi sekolah -sekolah yang terbilang tertinggal dan membuka kelas pendidikan non formal, itu didasari atas
alasan bahwa pendidikan merupakan dunia yang unik dan penuh dengan beragam permasalahan, baik itu yang berasal
dari intern maupun ekstern lingkungan pendidikan. Kondisi ini adalah hal yang wajar sekali, mengingat dunia pendidikan
tidak saja mengelolah benda – benda fisik, akan tetapi yang tidak kalah pentingnya yaitu mengelolah sesuatu yang hidup
berupa manusia yang memiliki perasaan, pikiran, egoisme, nafsu hasrat dan keinginan – keinginan lainnya.

”Adalah sebuah fakta yang kemudian tentu tak dapat dipungkiri bahwa Tantangan pendidikan nasional yang dihadapi
oleh bangsa Indonesia dewasa ini adalah Peningkatan pemerataan kesempatan pendidikan, Peningkatan kualitas
pendidikan, Peningkatan efesiensi pendidikan, dan Peningkatan relevansi pendidikan.”ujar Ilmi.

Begitu pula tantangan di lingkungan Pendidikan Non Formal (PNF), dimana permasalahan – permasalahan yang terjadi
semakin komplek saja. Hal ini disebabkan dunia Pendidikan Non Formal adalah dunia yang berhadapan langsung dengan
masyarakat peserta didik yang “bermasalah”, baik itu bermasalah dari segi ekonomi (kemiskinan), segi pendidikan
(putus sekolah), segi sosial (pengangguran), segi sumber daya manusia (rendahnya ketrampilan yang dimiliki) dan lain
sebagainya. Dengan kata lain, Pendidikan Non Formal menitik beratkan pada pemberdayaan “masyarakat sampah” atau
masyarakat yang bermasalah secara kolektif.”jelas Aktivis perempuan yang saat ini melakoni kegiatan literasi.

Dirinya menyebut bahwa kehadiran Manakarra Grenner ditengah tengah masyarakat sebagai sebuah upaya kami ingin
membangun sumber daya manusia,membebaskan masyarakat kita dari permasalahan khususnya disektor
pendidikan,sebab dalam pandangan kami bahwa Masyarakat yang bemasalah ini secara umum sering disebut sebagai
“Masyarakat Marjinal”. Secara harfiahmarjinal berasal dari kata marjin yang artinya tepi atau pinggiran. Sedangkan
masyarakat marjinal sering disebut sebagai masyarakat pinggiran.

Tentu kesamaan hak untuk mendapatkan pendidikan tidak harus terdiskrminasi kepada saudara-saudara kita yang ada di
desa desa, mereka yang tidak mendapat fasilitas dengan baik bukan sebuah alasan untuk tidak bisa membantu
mereka.”imbuh Nurul Ilmi Herman.

Sementara Andi Ariel yang juga merupakan aktivis Manakarra Grenner ini mengatakan,ketika anak – anak miskin dan
terlantar tidak dapat menjangkau pendidikan dasar di sekolah akibat tidak mampu membayar, tidak mampu membeli
buku, membeli seragam serta tidak mampu menyesuaikan waktu belajar karena harus bekerja mencari nafkah maka kami
menjadi harapan tempat di mana anak – anak tersebut memperoleh pendidikan dalam bentuk pengetahuan dan
ketrampilan praktis yang mampu di aplikasikan di dalam komunitas masyarakat di mana dia hidup.

Jelas itu tujuan kami,sebab kita tentu tidak menutup mata akan fakta atau realita pendidikan kaum marginal didaerah
kita saat ini.

Adi

Comments

Tinggalkan Komentar anda