Koa-Koayang Dan Simbol Kerapuhan Bangsa

0

SuryatopNews.com – Oleh: Muhammad Munir (Aktifis Gerakan Literasi Rumah Pustaka) “Pada awal Oktober 2015 kemarin, Manajemen Rumah Pustaka disibukkan dengan beberapa permintaan wawancara khusus tentang Koa-Koayang. Entah dari mana Mahasiswa Unasman ini mengetahui dan alasan apa sehingga kemudian mereka memilih Rumah Pustaka sebagai sumber untuk mendapatkan informasi tentang Koa-Koayang”.

Tentang Koa-Koayang ini, sejak tahun 1997 sudah menasional dipahami sebagai sebuah seni teater tradisi dari tanah Mandar yang dipentaskan pertama kali pada Pentas Teater “Koa-Koayang” di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan selanjutnya tahun 1999 tampil di Pentas Teater “Koa-Koayang” di beberapa tempat di Yogyakarta. Dari pentas ke pentas ini Koa-Koayang di eksplorasi oleh Group Teater Flamboyant Tinambung menjadi seni teater tradisi dan secara cerdas membuka ruang tafsir untuk membaca kekinian bangsa Indonesia yang disetubuhi oleh para elit yang tidak serius mengurus bangsa ini.

Inilah pembacaan umum tentang KoaiKoayang yang jamak dipahami. Namun ketika sampai pada tataran penamaan, sejarah, dan seluk beluk Koa-Koayang ini, hampir pasti kita akan kesulitan menemukan deskripsi tentang Koa-Koayang, terlebih jika harus mencari referensi terkait ini dengan ini.

Berdasarkan pada fakta-fakta tersebut, saya mencoba memberikan gambaran tentang Koa-Koayang, sebagai kajian awal untuk kemudian diteliti dan ditulis secara ilmiah.

Koa-Koayang, Arti dan Sejarahnya

Koa-Koayang berasal dari nama Koa’, sejenis burung yang sudah jarang ditemukan dan hampir punah. Burung Koa ini mempunyai ciri berbadan besar, terbang tinggi sekuat tenaga. Menurut Nurdin Hamma (Budayawan Balanipa), selain ‘Koa’ burung ini dahulu dijuluki ‘Kali Arung’ (kali artinya kadhi atau hakim dan Arung adalah yang dituakan atau pemimpin). Burung Kali Arung ini diberi kesempatan oleh Tuhan meluruhkan seluruh bulunya dan mentakdirkannya jatuh sebelum menggapai arasy.

Dahulu kala, Koa-Koayang dikenal dengan nama ‘Pammanu-manu’, ini menjadi ritual pada acara pernikahan di Mandar. Pammanu-manu ini dilaksanakan pada malam setelah proses akad nikah disiang harinya. Mempelai wanita dipakaikan kostum dari sarung yang tak dikenal oleh mempelai laki-laki. Sehingga lelaki harus mencari dan mengejar wanitanya sampai ia dapatkan. Ini menjadi sebuah ritual pernikahan yang mengandung hiburan.

Perjalanan selanjutnya kemudian dieksflorasi menjadi seni pertunjukan seni tradisi ‘parrawana tommuane’ yang kemudian dinamai pakkoa-koayang. Pada fase ini Pakkoa-koayang menjadi sebuah seni pertunjukan yang berlangsung puluhan tahun dan tampil kadang dibuatkan panggung. Untuk saat ini, kelompok parrawana tommuane yang masih melestarikan tradisi ini adalah kelompok rebana yang ada di Lamase Kec. Tinambung.

Pakkoa-koayang kemudian diangkat dalam seni teater oleh Kelompok Teater Flamboyant yang diberi judul Koa-Koayang. Tahun 1997 itu menjadi momentum paling bersejarah karena lewat penyutradaraan Chandrawali (baca: Radar Sulbar, 18 Juni 2014) dipenampilan pentas seni teater di IAIN Sunan Kalijaga Jogyakarta ini, melahirkan sebuah konsep cerdas mengenai pembacaan kondisi bangsa Indonesia dibawah pemerintahan Soeharto selama 32 Tahun.

Lewat bangsa koa-koayang dari Mandar ini sampai pada simpulan bahwa Indonesia selama ini berada di selangkangan elit yang tak serius dan kesalahan paling besar terletak pada ketidak seriusannya dalam pengertian tidak boleh berfikir normal dalam situasi tidak normal. Indonesia hari ini terkesan tidak ramah pada para seniman tradisi dan tidak sopan pada ratusan juta rakyat miskin.

Sampai disini Koa-Koayang bertumbuh pada siklus kerapuhannya, ia ada dan terus dilahirkan, tapi spesies dan habitatnya entah dimana, tak ada yang peduli selain membesarkannya pada simbol dan simpul budaya yang tiba dimana-mana tapi tidak pernah berangkat, ia ada dimana-mana tapi tak pernah bergerak. Ini harus menjadi tugas kolektif untuk memfaktualkan nilai-nilai dibalik simbol koaya-koayang. Nasib Burung Koa-Koayang dan Mandar Dengkur.

Meski Koa-koayang harus menemukan takdir kepunahannya, ia mungkin akan terus dilisan tuliskan oleh masyarakat Mandar. Ia mungkin lebih beruntung sebab dimana-mana namanya diabadikan terus dari masa ke masa. Berbeda dengan burung Mandar Dengkur. Mendengar namanya saja, mungkin ada yan baru pertama, padahal burung ini merupakan fauna identitas Mandar (sekarang Sulawesi Barat).

Burung Mandar Dengkur, Ia punya nama latin Aramidopsis plateni, salah satu jenis burung endemik Sulawesi. Disebut Dengkur sebabi jika burung ini berbunyi sangat mirip dengan bunyi orang tidur yang mendengkur. Burung ini mempunyai tinggi 29 cm, paruhnya agak panjang, muka dan bagian bawahnya abu-abu, tenggorokan keputih-putihan, sisi perut berpalang hitam dan putih, paruhnya berwarna kemerahan.

Eliyana Said (Staf Pusat Pengelolaan Ekoregion Sulawesi dan Maluku, Kementerian Lingkungan Hidup) dalam salah satu tulisannya menjelaskan secara rinci bunyi burung Mandar Dengkur ini. Burung ini berbunyi terdengar lebih mendengkur tenang selama 1-2 detik, termasuk suara singkat Wheez yang diikuti cepat oleh suara dengkur ee-orrr yang berlarut-larut, panjang dengan suara nafas yang singkat dan redam.

Burung Mandar Dengkur hidup berpasangan dan berkelompok dalam jumlah kecil. Sangat mencolok ketika terbang dengan kepakan sayap yang cepat dan kuat diselingi gerakan melayang serta saling meneriaki. Ia termasuk jenis burung omnivora namun lebih sering memakan tumbuh-tumbuhan. Bila bersuara ditempat bertengger, jambulnya ditegakkan lalu diturunkan.

Saat ini, baik Koa-koayang ataupun Mandar Dengkur, keduanya terancam punah akibat penembakan dan penangkapan yang berlebihan untuk perdagangan burung dalam sangkar. Kondisi ini tentu harus menjadi kekhawatiran bersama, sebab jika dibiarkan terus terjadi semuanya akan habis tak tersisa. Ini mesti disikapi oleh semua pihak.

Sekarang saatnya kita berfikir jernih, untuk tidak mengekploitasi alam, budaya dan manusia. Semoga tulisan ini menjadi awal yang baik untuk menggugah rasa kita masing-masing untuk kebaikan kita hari ini, esok dan selamanya.

Comments

Tinggalkan Komentar anda