Keluarga, Inspirasi Untuk Menjalankan Amanah Himpunan”

0

SuryatopNews.com – Beda cakupan, beda pula kecenderungan keinginan mayoritas warga atau anggota suatu organisasi terhadap status pernikahan seorang pemimpin tertinggi organisasi itu. Jika mayoritas warga negara Indonesia cenderung menginginkan seorang Presiden yang lengkap dengan Ibu atau Bapak Presiden, maka warga HmI, konon cenderung menginginkan seorang pemimpin tertingginya yang masih single.

Ricky Valentino menilai, kecenderungan itu hanyalah klaim. “Kecenderungan itu cuma klaim. Bahkan kemungkinan adanya kecenderungan itu sendiri masih sangat diragukan. Untuk konteks HmI, apalagi dalam momen kontestasi politik internal, itu sangat mungkin sengaja dijadikan isu murahan oleh oknum yang berkepentingan menggiring kita untuk menghabiskan energi pada sesuatu yang tidak substansial.”

“Saya menyebutnya hanya klaim karena hal-hal berikut. Pertama, tidak ada bukti ilmiah bahwa kecenderungan itu merupakan representase kehendak seluruh anggota HmI. Kedua, tidak ada rujukan teoritis untuk menemukan pengaruh signifikan status sudah menikah terhadap buruknya prestasi kinerja pimpinan organisasi mulai dari tingkat PB beserta bidang-bidang dan lembaga kekaryaan hinga Komisariat.”

“Selain itu”, lanjut Ricky, “konstitusi HmI masih sangat rasional sehingga tidak memasukkan status pernikahan dalam uji kelayakan pemimpin. Jika alasannya akan menghambat kerja-kerja organisasi kalau sudah menikah, sangat tidak berdasar. Kualitas kinerja seorang pemimpin dalam organisasi, bergantung pada kemampuan manajerial pemimpin itu. Apapun status pernikahannya, pertanyaannya, apakah anda sudah selesai dengan diri sendiri atau belum?”, tandasnya.

Ditanyai bagaimana dukungan keluarga dalam keputusannya menjadi Kandidat Ketua Umum PB HmI, bapak dua anak ini mengaku didukung penuh keluarga.

“Keluarga mendukung penuh. Jadi saya pikir, keluarga bukan hambatan dalam menjalankan tanggungjawab himpunan jika saya diberikan kepercayaan mengemban amanah selama dua tahun ke depan, insya Allah”, ujar Ricky optimis.

“Dan sepanjang pengalaman saya, sejak dua tahun lalu aktif di PB HmI, saya sudah membuktikan bahwa keluarga bukan hambatan. Justru menjadi inspirasi terbesar untuk menjalankan amanah himpunan hingga tuntas”, lanjutnya.

Di kesempatan lain, Syarifah Rafiqa, menyampaikan hal senada. “Kami sekeluarga mendukung abah (Ricky, red) sepenuhnya. Memang, kalau boleh memilih, saya lebih memilih Abah fokus sama keluarga. Tetapi saya juga menyadari, dalam waktu bersamaan, Abah masih punya tanggungjawab lain, dan Abah sangat paham hal ini”, jelas Syarifah.  

“Jika Abah memang dibutuhkan dan layak mengemban amanah itu, yah kami harus mendukungnya mengemban amanah itu hingga finish sesuai ketentuan AD/ART. Lagipula, masa kepengurusan di PB HmI hanya 2 tahun dalam 1 periode dan Abah sudah aktif di HmI sejak tahun 2004, jauh sebelum kami saling kenal. Setelah itu, apapun rencana pilihan Abah kami tetap mendukung selama masih dalam koridor hukum dan agama, mau kembali fokus di keluarga atau di ruang-ruang sosial yang lain atau keduanya”, lanjut Kabid PTKP HmI Cabang Tarakan Periode 2009-2010 ini.

Lebih jauh, Syarifah berpendapat bahwa, “intinya, keluarga bukan institusi yang memenjara tanggungjawab yang mungkin lebih besar. Di sisi lain, ketika Abah mampu memberikan yang terbaik di ruang apapun, dengan sendirinya sudah memberikan yang terbaik buat keluarga”.

Fiqa, sapaan akrab Syarifah Rafiqa, sejak tahun 2011, tepatnya setelah menyelesaikan studi S1 di FKIP Universitas Borneo Tarakan (UBT), diangkat menjadi dosen tetap di almamaternya itu. Sosok hijaber moderat ini mendapatkan tugas belajar di program pascasarjana Universitas Negeri Jakarta (UNJ) pada tahun 2012, dan menyelesaikan studinya hanya dalam waktu empat semester sebelum kembali aktif mengajar di UBT.

Ricky dan Fiqa menikah pada awal September 2012, hanya berjeda beberapa bulan sebelum Ricky dilantik sebagai pengurus inti di PB HmI Periode 2013-2015, atau sekitar 1 bulan sebelum Fiqa memulai tugas belajarnya di UNJ. Semenjak itu, sebagai imam keluarga sekaligus salah satu pemimpin misi keumatan dan kebangsaan, Ricky dituntut untuk terlatih membagi waktu dan energi secara proporsional sehingga kedua tanggungjawabnya terjaga dengan baik.

Ricky mengakui, bukan perkara mudah menjaga kedua tanggungjawab itu. Apalagi setelah pernikahan mereka dikarunia dua orang anak, El-Zafran Alidinejad dan Zafira Malala Althaf. “Memang tidak mudah. Tapi Alhamdulillah, berkat kerja keras, ketekunan, perencanaan matang, kesabaran, dukungan teman-teman seperjuangan, dan terutama dari keluarga, kedua tanggungjawab ini Alhamdulillah terjaga dengan baik”, tutur Ricky bersemangat.

Alhasil, sejak menjabat sebagai Ketua PB HmI Bidang Lingkungan Hidup Semester 1-2 Periode 2013-2015 hingga menjadi Ketua PB HmI Bidang Sumber Daya Alam Semester 3-4 pada periode yang sama, Ricky tercatat beberapa kali berhasil merealisasikan program kerja PB HmI, terutama di bidangnya. Salah satu puncaknya ketika dia menjadi Konseptor sekaligus Ketua Panitia yang sukses menyelenggarakan Program Asian Youth Green Camp PB HmI yang diikuti delegasi 15 negara Asia dan utusan 199 Pengurus HMI Cabang Se-Indonesia pada 21-27 April 2014 di Makassar dan Bantaeng.

Di luar PB HmI, Ricky juga berhasil menginisiasi pembentukan lembaga yang konsen membantu percepatan pembangunan masyarakat, khususnya masyarakat perbatasan di Kalimantan Utara. Salah satunya adalah Pusat Kajian Masyarakat Perbatasan Kalimantan Utara (PIKIR KALTARA) yang didirikan tanggal 3 Juni 2015. Sebagai konseptor lembaga riset dan kajian ini, Ricky memiliki rencana strategis tentang bagaimana membangun masyarakat perbatasan yang selama ini dibiarkan tertinggal oleh pemerintah. Bersama teman-temannya, Ricky telah menjalankan beberapa program lembaga itu.

Selain itu, Ricky juga tercatat aktif menyampaikan gagasan-gagasannya seputar masalah-masalah aktual dan strategis dalam tema-tema keumatan dan kebangsaan melalui tulisan-tulisannya di beberapa media cetak dan online (*).

(Zulkifli/Adi).

Comments

Tinggalkan Komentar anda