Dilema Pembangunan Mega Proyek

0
Proses Belajar Mengajar Sekolah Alam Dibawah Kolong Rumah Warga

Mamuju Tengah – Ada banyak fenomena yang dapat dituliskan  di Desa Salu Le’bo Kecamatan Topoyo Kabupaten Mamuju Tengah ini.

Selain dari sektor pendidikan yang begitu menyayat hati, infrastruktur jalan yang jauh dari perhatian pemerintah pun harus menjadi perhatian kita semua.

Potret Jalan Di Desa Salu Le'bo
Potret Jalan Di Desa Salu Le’bo

Disektor pendidikan tentu sangat miris, betapa tidak siswa – siswinya harus belajar dibawah kolong rumah dengan fasilitas seadanya. Jangan bertanya tentanya guru honorer atau guru yang berstatus PNS ditempat ini, sebab kita tidak akan menemukan itu. Yang ada adalah relawan dari siswa – siswi Sekolah Alam itu sendiri saling melakukan transformasi pengetahuan dengan metode pembelajaran Tutor Sebaya .Namun semangat mereka melebihi Semangat para anak anak di kota yang juga punya impian dan cita – Cita.

Selama 7 hari perjalanan dimulai sejak tanggal 20 – 26 April dengan ditemani oleh 7 pemuda yang bergerak di Literasi yaitu Rumah Hypatia, begitu banyak hal yang bisa dilisan tuliskan, seperti sosok Aco Muliadi yang merupakan pendiri sekolah Alam Desa Salu Le’bo yang telah mewakafkan dirinya untuk memahat kebodohan di Belantara Salu Le’bo ini.

Siswa Sekolah Alam Saat Mengikuti Ujian  Sekolah
Siswa Sekolah Alam Saat Mengikuti Ujian Sekola

Tak hanya itu terdengar kabar dari sejumlah masyarakat yang bermukim ditempat ini bahwa akan ada mega proyek berupa bendungan yang harus menenggelamkan tempat itu.

Pak Gema Salah satunya yang merupakan Suku Topimbuni menyebut bahwa saya dengar ada rencana proyek bendungan di Dusun Batu Papan Desa Salu Le’bo , sehingga jika ini benar dilakukan maka tentu kami tidak tau harus kemana lagi sebab nantinya semua tempat ini akan tenggelam.

Kalau bisa tidak perlu ada bendungan karena kami sudah nyaman ditempat ini, termasuk anak – anak kami yang mau bersekolah serta tentu kami tidak tau mau memulai kehidupan  ditempat yang baru nantinya.” Harap Pak Gema.

Tak Hanya Pak Gema, sejumlah siswa – siswi Sekolah Alam Desa Salu Le’bo turut menolak akan adanya rencana pembangunan Bendungan tersebut. Mereka kemudian menuliskan bahwa mereka tidak ingin dipisahkan dengan teman – temannya.

Nobertus dan Nur Atika kini telah menuliskan bahwa kami ingin sekolah alam ini terus terbuka agar kami bisa terus bersekolah dan kami dapat mencapai cita – Cita .

Kami tidak ingin jika sekolah alam ini ditenggelamkan karena kami tidak dapat lagi bersekolah dan tidak bisa mendapatkan ilmu dari pak Guru uwe’ .” Begitu mereka menyebut sosok Aco Muliadi.

Dari beberapa fakta yang kita temukan di Salu Le’bo ini bersama dengan Rahmat Ikhsan salah satu penggiat literasi Rumah Hypatia menurutnya bahwa terkait rencana bendungan tersebut maka tentu ini akan menjadi sederet persoalan  bahwa
Sebagian besar masyarakat Salu Lebo yang tersebar di berbagai dusun
Tidak tahu, nantinya mereka akan tinggal dimana pasca terjadi pembangunan
Bendungan.

Lebih jauh Ikhsan menyebut Bagaimana proses ganti untung lahan bangunan, yang mereka tinggali dan berkerbun.
Selain itu ditemukannya blangko yang beredar di masyarakat, untuk daftar isian dalam hal menentukan nilai harga lahan dan bangunan mereka. Sementara kita ketahui bersama, bahwa rata – rata masyrakat disana tidak tahu baca tulis.

Bagaimana mungkin mereka ingin bertindak dengan sesuatu yang mereka tidak ketahui, Apakah bangunan fisik berupa sekolah, Gereja, Masjid dan lain – lain Itu juga merupakan bagian yang
nantinya akan di ganti  untung. Karena bagaimanapun bangunan itu  merupakah hasil swadaya kerja Keras masyarakat yang berangkat dari setiap tetes keringat dan tabungan mereka bersama.”sambungnya.

Apakah sama ganti untung antara setiap Kepala Keluarga yang mempunyai alas titel kepemilikan lahan dengan yang tidak memiliki, Bagaiamna dengan keberdaan  masyarakat suku to pembuni disana ? Yang diperkirakan sejak abad
ke 17 sudah berada di tempat itu ?

Belum lagi jika tempat ini akan ditenggelamkan maka tumbuhan endemik seperti pohon IPO yang merupakan salah satu komoditi HHBK yang potensial dan bermanfaat dijadikan sebagai bahan baku kerajinan dan hewan endemik seperti Anoa akan punah. Lucunya masyarakat yang kemudian terkena dampak dari mega pembangunan bendungan ini, justru belum pernah mendapatkan sosialisasi.Terang Rahmat Ikhsan

Hal diatas tentu masih merupakan fakta sementara yang semestinya menjadi bahan diskusi kita bersama . Namun yang pastinya ada banyak hal yang menjadi alasan mengapa kita harus membincang Salu Le’bo Kabupaten Mamuju Tengah.

Adi.

Comments

Tinggalkan Komentar anda