Mengenal Ainun Nurdin dan Beru-Beru Orchestra

0

SuryatopNews.com – OPINI – Oleh : Muhammad Munir (inisiator Rumah Pustaka)

BERU-BERU ORCHESTRA
Selain teater Flamboyant Mandar, Tinambung adalah tempat lahirnya seniman multi talenta yang mengalir laksana aliran sungai Mandar yang membelah kota tua ini. Salah satu group musik yang masih tetap eksist menata diri dan mencetak musisi-musisi handal adalah Beru-Beru Orchestra (BBO) yang beralamat di Jl. Trans Sulawesi Depan Masjid Nurul Amin Kandemeng Desa Batulaya Kec. Tinambung.

Komunitas musik ini lebih memilih berkonsentrasi mengusung musik klasik modern. Tak heran jika pentolan BBo ini kemudian melahirkan seniman yang piawai memainkan musik calong, guitar, harmonika, gambus (Oud) serta Guitar Rhythm, Guitar melodic, Violin String/Solo dan Percussion.
Membincang BBO adalah membincang Ainun Nurdin. Pemuda lajang kelahiran Kandemeng, 25 September 1989 inilah yang menjadi inspirasi bagi ratusan anak-anak negeri ini yang mencoba mengabdi dengan cara memesrai kesenian tradisional dan mengeksplorasinya dengan balutan seni musik modern, sehingga aliran musik yang ditelorkan menjadi sebuah magnet yang akan menghirup seluruh energi kita untuk menikmati sajian musik ala BBo ini.

Membincang Ainun Nurdin sendiri juga tak lengkap jika tak mencoba menelisik keberadaan Sang Kiyai Kanjeng Emha Ainun Najib. Sebab, nama Ainun yang disandangnya adalah bentuk apresiasi seorang Nurdin Hamma dalam mengabadikan Emha Ainun Najib dan Teater Flamboyant. Tahun 1989 yang menjadi tahun kelahiran Ainun Nurdin tersebut, tepat disaat semua program yang digodok TF di matangkan Pak Nurdin Hamma di Kandemeng. Nama Emha Ainun Najib sendiri tak bisa dipisahkan dari eksistnya TF menjadi satu-satunya komunitas yang melegenda di Mandar sejak tahun 1970 sampai hari ini.
Ainun kecil hidup dan berkembang seperti layaknya anak-anak Kandemeng. Ia bersekolah di SD 04 Kandemeng, lanjut ke SMP Negeri 1 Tinambung dan kemudian menyelesaikan pendidikan SMA-nya di SMA Layonga. Selepas dari Layonga ia kemudian hijrah ke Yogyakarta untuk bertalibul ilmi di Universitas Muhammadiyah Jogyakarta. Di UMJ ia dengan mantap memilih fakultas hukum.

Lalu dimana Ainun Nurdin mengenyam pendidikan musik yang begitu mengakar dan bertumbuh menjadi cerita panjang seniman dan musisi yang banyak dikenal ini?. Inilah luar biasanya pemuda yang sering ke pelosok dengan musik edukasinya bersama Komunitas Rumah Pustaka.
Usut punya usut, ternyata jiwa musiknya terbentuk secara autodidak dan hanya mengandalkan dari seringnya ia melihat penampilan alm. Muhammadiyah (M. Diyah) atau Imam Kandemeng yang terkenal dengan kelihaiannya bermain gambus dan biola. Sebuah proses yang biasa, namun dari seringnya ia berinteraksi dengan tokoh kharismatik Imam Kandemeng tersebut ia tertarik menggeluti dunia musik tradisi dan biola. Pada tahap ini, Abdul Gani Kallo (Mantan Kepala Desa Batulaya) ikut memberi warna pada seni bakat bermusiknya. Selain Abdul Gani Kallo, Kadda Tira (Aqbana Fatimah) juga sangat menginspirasinya.
Waktu berdetak berderai, ia mungkin jadi bentakan bagi Ainun, mungkin juga bisa menjadi sebuah gelombang yang menggulung, menghempas dan mendesir, namun Ainun Nurdin mencoba mengelaborasi dan mengaramkan dirinya maksyuk dalam tarian bersama ombak. Berawal dari sebuah kaleng, jergen, galon bekas serta beberapa alat musik tradisi calong dan keke, ia mengajak teman-teman bermainnya untuk mencoba membuat sebuah group musik tradisi. Sebuah proses yang membuatnya dan kelompoknya harus pinjam alat kesana kemari, demi memenuhi permintaan masyarakat dan instansi untuk tampil meramaikan acara. Dan proses itulah yang membentuk dan mengantarkannya menjadi salah satu guru musik yang enggan dipublish serta lebih memilih menebarkan virus bermusiknya secara gratis kesetiap daerah, mulai dari Kandemeng ke Jogya, dari Jogya ke Mandar (Polewali-Majene-Mamuju), Dari Mandar ke Jogya, ke Kalimantan (Bontang, Samarida dan Tenggarong) dan kembali eksist di Mandar.
Sewaktu di Jogya, Ainun ternyata lebih asyik dengan musik dari pada bergulat dengan modul-modul di kampus. Sanggar Nusantara Indonesia Jogya, mengantarkannya untuk sampai pada panggung bersama Emha Ainun Najib pada tahun 2008. Ditahun yang sama penampilannya di Jogya sempat disaksikan oleh Ali Baal Masdar (Bupati Polman saat itu). Dan Medio 2008 menjadi awal baginya untuk mengembangkan potensi keseniannya yang tentu saja beresiko dengan dunia akademiknya, sebab harus menjadi tumbal bagi seni bermusiknya. Tampil dari panggung ke panggung, hingga pada suatu ketika bertemu dengan kafila dari Mandar. Rombongan TF yang terdiri dari Ramli Rusli dkk. yang juga akan tampil di Jogya menjadi awal bagi Ainun untuk kembali ke Mandar.

Sebuah pesan pengantar dari Ramli Rusli untuk kembali ke Mandar dan bergabung dengan Flamboyant ia genggam. Tepatnya 2010, Ainun kembali ke Mandar dan bergabung ke Flamboyant.
Dari Flamboyant kemudian ia memunguti kepingan-kepingan awal berkeseniannya menjadi sebuah group yang diberi nama Beru-Beru Orchestra yang terdaftar dengan akta notaris Nomor 56 Tanggal 26 Januari 2012 dengan Syarief Rahmat Tasman, SH sebagai Notaris. Sejak itulah, Ainun lebih fokus dan konsentrasi mebina anak didiknya, termasuk anak binaannya di Piccara Mapilli, Korumta Mekkatta Kab. Majene (Asuhan Bustan Basir Maras), Kakanna (asuhan Adil Tambono), Jumantara Records (Immank Kasim), Bestem (Mombi-Alu), Alepu’ Art Management (Katumbangan) sampai ke Kalimantan Timur dimana Irwan Syamsir menjadi salah satu muridnya yang punya nama disana. Dari Kalimantan kemudian kembali dan memutuskan untuk mengabdi pada generasi muda di Mandar. Pilihan untuk eksist di Mandar membuat salah satu muridnya yang bernama Bayu merasa kehilangan. Kondisi itu membuat Bayu harus memilih untuk menyusul Ainun ke Mandar yang tentu harus merepih pilunya kedunia yang sama sekali asung baginya.
Di Mandar inilah, Bayu besama Upphie memunguti resahnya dengan gesekan biola, petikan gitar dan mengasah potensinya untuk tampil pada setiap undangan yang dialamatkan ke Beru-Beru Orchestra. Gerakan Literasi di Rumah Pustaka yang kerap berkunjung ke pelosok terpencil tak pelak menjadi ruang bagi personil BBO sebagai sujud sosial dan menjadikan gerakan musik edukasinya sebagai ladang amal. Saat ini dan mulai bulan depan, BBO akan fokus menerima peserta bimbingan musik klasik modern bekerja sama dengan Rumah Kopi dan Perpustakaan (Rumpita). Semoga dengan kegiatan ini, Mandar kian bersinar dan terjaga musik tradisinya dari infiltrasi budaya-budaya yang bisa saja menghilangkan jatidirinya sebagai Anak Mandar.

Demikian harapan Nurdin Hamma, Pembina Rumah Pustaka dan BBO sekaligus orang tua yang melahirkan Ainun Nurdin. Pesan beliau “Besarlah dengan orang-orang yang mencintai dan membencimu, tetaplah bekerja sama dan berikan ruang bagi orang-orang disekelilingmu untuk berkreasi”. Tutup Nurdin Hamma saat wawancara dengan Ainun Nurdin saya sudahi.

(Kandemeng, 20 Januari 2016).

SuryatopNews.com

Comments

Tinggalkan Komentar anda